buka puasa JANGAN dengan yang manis….


Posted by Herry @ 00:44 | in Artikel, Sains | e-mail this article | +
to del.icio.us
Oleh Herry Mardian

Di bulan puasa ini, sering kita dengar kalimat ‘Berbuka puasalah
dengan makanan atau minuman yang manis,’ katanya. Konon, itu
dicontohkan Rasulullah saw. Benarkah demikian?

Dari Anas bin Malik ia berkata : “Adalah Rasulullah berbuka dengan
Rutab (kurma yang lembek) sebelum shalat, jika tidak terdapat Rutab,
maka beliau berbuka dengan Tamr (kurma kering), maka jika tidak ada
kurma kering beliau meneguk air. (Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud)
Nabi Muhammad Saw berkata : “Apabila berbuka salah satu kamu, maka
hendaklah berbuka dengan kurma. Andaikan kamu tidak memperolehnya,
maka berbukalah dengan air, maka sesungguhnya air itu suci.”
Nah. Rasulullah berbuka dengan kurma. Kalau tidak mendapat kurma,
beliau berbuka puasa dengan air. Samakah kurma dengan ‘yang
manis-manis’? Tidak. Kurma, adalah karbohidrat kompleks (complex
carbohydrate). Sebaliknya, gula yang terdapat dalam makanan atau
minuman yang manis-manis yang biasa kita konsumsi sebagai makanan
berbuka puasa, adalah karbohidrat sederhana (simple carbohydrate).

Darimana asalnya sebuah kebiasaan berbuka dengan yang manis? Tidak
jelas. Malah berkembang jadi waham umum di masyarakat, seakan-akan
berbuka puasa dengan makanan atau minuman yang manis adalah ‘sunnah
Nabi’. Sebenarnya tidak demikian. Bahkan sebenarnya berbuka puasa
dengan makanan manis-manis yang penuh dengan gula (karbohidrat
sederhana) justru merusak kesehatan.
Dari dulu saya tergelitik tentang hal ini, bahwa berbuka puasa
‘disunnahkan’ minum atau makan yang manis-manis. Sependek ingatan
saya, Rasulullah mencontohkan buka puasa dengan kurma atau air putih,
bukan yang manis-manis.
Kurma, dalam kondisi asli, justru tidak terlalu manis. Kurma segar
merupakan buah yang bernutrisi sangat tinggi tapi berkalori rendah,
sehingga tidak menggemukkan (data di sini dan di sini). Tapi kurma
yang didatangkan ke Indonesia dalam kemasan-kemasan di bulan Ramadhan
sudah berupa ‘manisan kurma’, bukan lagi kurma segar. Manisan kurma
ini justru ditambah kandungan gula yang berlipat-lipat kadarnya agar
awet dalam perjalanan ekspornya. Sangat jarang kita menemukan kurma
impor yang masih asli dan belum berupa manisan. Kalaupun ada, sangat
mungkin harganya menjadi sangat mahal.
Kenapa berbuka puasa dengan yang manis justru merusak kesehatan?
Ketika berpuasa, kadar gula darah kita menurun. Kurma, sebagaimana
yang dicontohkan Rasulullah, adalah karbohidrat kompleks, bukan gula
(karbohidrat sederhana). Karbohidrat kompleks, untuk menjadi glikogen,
perlu diproses sehingga makan waktu. Sebaliknya, kalau makan yang
manis-manis, kadar gula darah akan melonjak naik, langsung. Bum.
Sangat tidak sehat. Kalau karbohidrat kompleks seperti kurma asli,
naiknya pelan-pelan.
Mari kita bicara ‘indeks glikemik’ (glycemic index/GI) saja. Glycemic
Index (GI) adalah laju perubahan makanan diubah menjadi gula dalam
tubuh. Makin tinggi glikemik indeks dalam makanan, makin cepat makanan
itu dirubah menjadi gula, dengan demikian tubuh makin cepat pula
menghasilkan respons insulin.
Para praktisi fitness atau pengambil gaya hidup sehat, akan sangat
menghindari makanan yang memiliki indeks glikemik yang tinggi. Sebisa
mungkin mereka akan makan makanan yang indeks glikemiknya rendah.
Kenapa? Karena makin tinggi respons insulin tubuh, maka tubuh makin
menimbun lemak. Penimbunan lemak tubuh adalah yang paling dihindari
mereka.
Nah, kalau habis perut kosong seharian, lalu langsung dibanjiri dengan
gula (makanan yang sangat-sangat tinggi indeks glikemiknya) , sehingga
respon insulin dalam tubuh langsung melonjak. Dengan demikian, tubuh
akan sangat cepat merespon untuk menimbun lemak.
Saya pernah bertanya tentang hal ini kepada seorang sufi yang diberi
Allah ‘ilm tentang urusan kesehatan jasad manusia. Kata Beliau, bila
berbuka puasa, jangan makan apa-apa dulu. Minum air putih segelas,
lalu sholat maghrib. Setelah shalat, makan nasi seperti biasa. Jangan
pernah makan yang manis-manis, karena merusak badan dan bikin
penyakit. Itu jawaban beliau. Kenapa bukan kurma? Sebab kemungkinan
besar, kurma yang ada di Indonesia adalah ‘manisan kurma’, bukan kurma
asli. Manisan kurma kandungan gulanya sudah jauh berlipat-lipat
banyaknya.
Kenapa nasi? Lha, nasi adalah karbohidrat kompleks. Perlu waktu untuk
diproses dalam tubuh, sehingga respon insulin dalam tubuh juga tidak
melonjak. Karena respon insulin tidak tinggi, maka kecenderungan tubuh
untuk menabung lemak juga rendah.
Inilah sebabnya, banyak sekali orang di bulan puasa yang justru
lemaknya bertambah di daerah-daerah penimbunan lemak: perut, pinggang,
bokong, paha, belakang lengan, pipi, dan sebagainya. Itu karena
langsung membanjiri tubuh dengan insulin, melalui makan yang
manis-manis, sehingga tubuh menimbun lemak, padahal otot sedang
mengecil karena puasa.
Pantas saja kalau badan kita di bulan Ramadhan malah makin terlihat
seperti ‘buah pir’, penuh lemak di daerah pinggang. Karena waham umum
masyarakat yang mengira bahwa berbuka dengan yang manis-manis adalah
‘sunnah’, maka puasa bukannya malah menyehatkan kita. Banyak orang di
bulan puasa justru menjadi lemas, mengantuk, atau justru tambah gemuk
karena kebanyakan gula. Karena salah memahami hadits di atas, maka
efeknya ‘rajin puasa = rajin berbuka dengan gula.’
Ingin ‘Kurus’
Melenceng dikit dari topik blog ya. Dikit aja. Itung-itung bonus.
Untuk sahabat-sahabat yang ingin kurus: jangan diet (dalam pengertian
mengurangi frekuensi makan). Diet justru menambah kecenderungan tubuh
untuk menabung lemak karena ‘dilaparkan’. Ketika diet memang makanan
tidak masuk, tapi begitu makanan masuk, kecenderungan tubuh untuk
menimbun lemak dari makanan justru lebih besar.
Rahasia kurus sebenarnya adalah menjaga agar respon insulin dalam
tubuh stabil, tidak melonjak-lonjak. Caranya, hanya makan makanan yang
memberi respon insulin rendah, yaitu yang indeks glikemiknya rendah.
Respon insulin tubuh meningkat bila:
(1) Makin tinggi jumlah karbohidrat yang dimakan dalam satu porsi,
makin tinggi pula respon insulin tubuh (ini umumnya porsi kita di
Indonesia: lebih dari 70 persen dari satu porsi makannya adalah nasi).
Makanya, makanlah dengan karbohidrat cukup lima puluh persennya saja.
Sisanya protein, dan 5-10 persennya lemak. Lemak ini cukup dari lemak
yang terkandung dalam daging yang kita makan, misalnya. Atau kuning
telur. Tidak perlu menambah minyak atau memakan lemak hewan (yang
justru buruk pengaruhnya bagi tubuh). Lemak (sedikit!) masih
diperlukan untuk mengolah beberapa nutrisi dan vitamin, dan untuk
membawa nutrisi ke seluruh tubuh.
(2) Semakin tinggi GI (Glycemic Index) karbohidrat yang dikonsumsi,
semakin meningkat pula respon insulin tubuh. Makanya, makan hanya
makanan yang GI-nya rendah. Nanti saya jelaskan di bawah.
(3) Semakin jarang makan, semakin meningkat respon insulin setiap kali
makan.
Ini sebabnya diet (dalam pengertian: mengurangi frekuensi makan supaya
kurus) tidak akan pernah berhasil untuk jangka lama. Setelah diet
selesai, tubuh justru akan cenderung lebih gemuk dari sebelum diet.
Supaya kurus (baca: supaya respon insulin tidak melonjak) justru harus
makan lebih sering (4-5 kali sehari) tapi dengan porsi setengah atau
sepertiga porsi biasa, dengan karbohidrat maksimal 50 persen saja
setiap porsi.
Kalau respon insulin tubuh sudah stabil, maka tinggal diatur: kalau
ingin kurus, kalori yang masuk harus lebih sedikit dari kalori makanan
yang dibutuhkan untuk aktivitas sehari hari. Tambah dengan olahraga
teratur untuk membakar lemak berlebih dalam tubuh, dan memperbesar
otot. Otot membutuhkan energi, maka makin terlatih otot, ia akan makin
mengkonsumsi lemak dalam tubuh kita untuk energi.
Sebaliknya kalau ingin memperbesar otot (bukan gemuk) atau
mengencangkan badan, maka kalori yang masuk harus agak lebih banyak
dari jumlah kalori yang akan kita pakai untuk aktivitas selama sehari,
agar otot mengalami pertumbuhan. Otot sendiri dirangsang
pertumbuhannya dan ‘kekencangannya’ dengan olahraga teratur. Perbanyak
protein agar pertumbuhan otot optimal. Karbohidrat cukup diposisikan
sebagai bahan pemberi energi, bukan untuk mengenyangkan perut.
Lucu ya: kalau ingin kurus atau memperbaiki bentuk badan, termasuk
menumbuhkan otot, justru harus makan lebih sering dengan porsi kecil.
Makan yang mengandung lemak, goreng-gorengan, kanji, atau karbohidrat
sederhana seperti gula, manisan, minuman ringan bersoda dan
sebangsanya itu sudah out of the question. Kalau kita jarang makan,
atau makan tidak teratur dan sekalinya makan ‘balas dendam
habis-habisan’ , ya justru respon insulin kita juga melonjak dan
membuat tubuh jadi menimbun lemak.
Sekali lagi, baik ketika berbuka puasa atau dalam makanan keseharian,
makanlah makanan yang seimbang: 50 persen karbohidrat kompleks, 40-45
persen protein dan 5-10 persen lemak dalam setiap porsinya. Jauhilah
karbohidrat sederhana sebisa mungkin. Kalaupun harus makan karbohidrat
sederhana karena butuh energi cepat carilah yang nilai indeks
glikemiknya rendah.
Karbohidrat kompleks membutuhkan waktu untuk diubah tubuh menjadi
energi. Dengan demikian, makanan diproses pelan-pelan dan tenaga
diperoleh sedikit demi sedikit. Dengan demikian, kita tidak cepat
lapar dan energi tersedia dalam waktu lama, cukup untuk aktivitas
sehari penuh. Sebaliknya, karbohidrat sederhana menyediakan energi
sangat cepat, tapi akan cepat sekali habis sehingga kita mudah lemas.
Maka, ketika makan sahur, jangan makan yang banyak mengandung gula,
karena kita akan cepat lemas. Makanlah karbohidrat kompleks (protein
jangan dilupakan!) sehingga kita tetap berenergi sampai waktu berbuka.
Karbohidrat sederhana, GI tinggi (energi sangat cepat habis, respon
insulin tinggi: merangsang penimbunan lemak) adalah: sukrosa
(gula-gulaan) , makanan manis-manis, manisan, minuman ringan, jagung
manis, sirop, atau apapun makanan dan minuman yang mengandung banyak
gula. Hindari, puasa atau tidak puasa.
Karbohidrat sederhana, GI rendah (energi cepat, respon insulin
rendah): buah-buahan yang tidak terlalu manis seperti pisang, apel,
pir, dan sebagainya. Sekarang ngerti kan, kenapa para pemain tenis
dunia, pemain bola, pemain basket atau pelari sering terlihat ‘ngemil
pisang’ di pinggir lapangan? Karena mereka butuh energi cepat, tapi
nggak ingin badannya gembul berlemak.
Karbohidrat Kompleks, GI tinggi (energi pelan-pelan, tapi respon
insulinnya tinggi): Nasi putih, kentang, jagung.
Karbohidrat Kompleks, GI rendah (energi dilepas pelan-pelan sehingga
tahan lama, respon insulin juga rendah): Gandum, beras merah,
umbi-umbian, sayuran. Ini yang paling dicari para praktisi fitness.
Makanan yang diproses pelan-pelan (karbohidrat kompleks) akan membuat
kita tidak cepat lapar dan energi dihabiskan cukup untuk aktivitas
satu hari penuh; respon insulin rendah membuat tubuh kita tidak
cenderung untuk menabung lemak.
Kalau saya pribadi, sahur cukup dengan oatmeal gandum (ditambah gula
sedikiiiiiit) , atau roti coklat gandum, dua atau tiga butir telur
rebus (kuningnya saya hancurkan dan ditebarkan di rumput untuk makanan
semut-semut di halaman rumah), sayuran segar, dan air putih. Ini sudah
cukup untuk membuat tenaga saya tidak habis sampai buka puasa karena
energi dari karbohidrat kompleksnya (gandum) akan dilepas pelan-pelan
ke dalam tubuh sepanjang hari. Ketika berbuka, sesuai anjuran
Rasulullah dan sufi tadi, saya biasanya minum segelas air, lalu shalat
maghrib. Setelah shalat makan nasi seperti biasa, sebisa mungkin
dengan porsi karbohidrat- protein-lemak- air proporsional. Dan tentu
tidak untuk ‘balas dendam’ karena puasa seharian. Ini justru saat yang
penting untuk melatih melawan keinginan hawa nafsu ‘makan
sekenyang-kenyangny a’. Belajar sabar.
Waham Umum
Oke, kembali ke topik. Nah, saya kira, “berbukalah dengan yang
manis-manis” itu adalah kesimpulan yang terlalu tergesa-gesa atas
hadits tentang berbuka diatas. Karena kurma rasanya manis, maka muncul
anggapan bahwa (disunahkan) berbuka harus dengan yang manis-manis.
Pada akhirnya kesimpulan ini menjadi waham dan memunculkan budaya
berbuka puasa yang keliru di tengah masyarakat. Yang jelas,
‘berbukalah dengan yang manis’ itu disosialisasikan oleh slogan
advertising banyak sekali perusahaan makanan di bulan suci Ramadhan.
Namun demikian, sekiranya ada di antara para sahabat yang menemukan
hadits yang jelas bahwa Rasulullah memang memerintahkan berbuka dengan
yang manis-manis, mohon ditulis di komentar di bawah, ya. Saya,
mungkin juga para sahabat yang lain, ingin sekali tahu.
Semoga tidak termakan waham umum ‘berbukalah dengan yang manis’. Atau
lebih baik lagi, jangan mudah termakan waham umum tentang agama.
Periksa dulu kebenarannya.
Kalau ingin sehat, ikuti saja kata Rasulullah: “Makanlah hanya ketika
lapar, dan berhentilah makan sebelum kenyang.” Juga, isi sepertiga
perut dengan makanan, sepertiga lagi air, dan sepertiga sisanya
biarkan kosong.

“Kita (Kaum Muslimin) adalah suatu kaum yang bila telah merasa lapar
barulah makan, dan apabila makan tidak hingga kenyang,” kata Rasulullah.
“Tidak ada satu wadah pun yang diisi oleh Bani Adam, lebih buruk
daripada perutnya. Cukuplah baginya beberapa suap untuk memperkokoh
tulang belakangnya agar dapat tegak. Apabila tidak dapat dihindari,
cukuplah sepertiga untuk makanannya, sepertiga lagi untuk minumannya,
dan sepertiga lagi untuk nafasnya.” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu
Hibban dalam Shahihnya yang bersumber dari Miqdam bin Ma’di Kasib)
Semoga bermanfaat..

Wassalaamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

————————

Sumber : http://2i2h.multiply.com/notes/item/129

About esdynoa

aq adalah orang yang pengen ikut berpartisipasi dalam hiruk pikuk kehidupan maya moga aja dengan membuat blog ini aq bisa lebih serius untuk belajar dan selalu bersemangat :D
This entry was posted in berbagi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s